Sifat Ingin Tahu Kunci Menjadi Wartawan


Medan, (Lapan Anam)
Salah satu sifat atau bisa dibilang penyakit wartawan yakni rasa ingin tahu atau mau tahu. Makanya dalam mendapatkan informasi bagaimanapun caranya ditempuh. Namun, semuanya harus kembali kepada norma-norma Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Hal ini disampaikan H Sofyan Lubis pada bedah buku, Wartawan? hehehe... “Cerita sejak Bung Karno sampai SBY” di Hotel Garuda Plaza Medan, Rabu (18/2).

Menurutnya, sifat ingin tahu merupakan kunci menjadi wartawan. Jika, ada wartawan yang tidak mau tahu lebih baik berhenti jadi wartawan. Nah, karena sifat ini, kata Sofyan terkadang membuat pejabat tersebut risih atau menjadi terganggu. “Untuk itu, pejabat harusnya tahu bagaimaa melayani wartawan untuk memenuhi keperluan mereka dengan memberikan keterangan-keterangan yang sesuai dengan profesi yang ada.

Tapi sebelumnya wartawan diminta memahami, menghayati dan menjalankan KEJ,” kata Sofyan pada acara yang juga dihadiri Penasehat PWI Pusat HM Yazid, Ketua Syarikat Penerbit Surat Kabar (SPS), HM Zaki Abdullah dan sejumlah Pemred media cetak dan elektronik. Tokoh pers Riau, Ridha Kaliamsi yang juga salah seorang pimpinan Jawa Pos Group.

Dalam buku setebal 245 halaman, yang ditulis, diedit sendiri, dia memberikan tips bagi pejabat agar memberikan penjelasan atau keterangan apa adanya, secara utuh, tidak sepotong-potong dan jelas. Keterangan yang tidak jelas, bisa membuat kerancuan. Bisa membuat wartawan salah tafsiran sendiri, salah tangkap karena itu wartawan juga perlu tanggap, jika ada yang kurang jelas atau samar-samar, tanya, tanya terus. “Jangan membuat tafsir atau kesimpulan sendiri,” jelasnya.

Utuh, lengkap, tidak sepotong-potong, lanjutnya sebab bisa saja wartawan mencari potongan lain. Kalau itu cocok, oke!.Kalau tidak, kan menjadi masalah. Biasanya kalau wartawan sudah memperoleh penjelasan yang utuh, lengkap, tidak sepotong-potong dan jelas, wartawan akan puas.

Tips lain, pejabat atau publik figur jangan terpancing dengan pertanyaan wartawan. “Hindari menjawab pertanyaan yang menggunakan kata kalau, andaikata. Sebab, jawaban itu akan memberi peluang bagi wartawan untuk mengejar pertanyaan lain. Ingat wartawan itu ingin tahu,”sebutnya.

Sementara nara sumber lain, Pemimpin Redaksi Harian Analisa, H Soffyan mengatakan buku pertama H Sofyan Lubis yang menceritakan pengalaman pribadi penulis memiliki motivasi yang besar bagi wartawan muda. Namun, buku tersebut masih memiliki banyak kekurangan sehingga ke depan hendaknya lebih disempurnakan.

Perlu Digali

Dialog yang dipandu Drs Armen, Msi Redaktur Ekonomi Harian Waspada juga menampilkan, J Anto, Direktur Yayasan Kajian Informasi Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS). Dia mengatakan di Sumatera Utara masih banyak sumber-sumber belajar mengenai jurnalistik yang perlu digali.

Menurutnya, apa yang dilakukan H Sofyan Lubis dengan menulis buku merupakan langkah yang tepat sehingga karya tersebut menjadi pembelajaran dalam konteks yang baru maupun kontemporer.

Dia berharap insitusi-institusi media yang besar hendaknya mau mempelopori lahirnya karya jurnalistik sehingga menjadi pembelajaran bagi generasi penerus. “Seandainya saja setiap peringatan Hari Pers Nasional (HPN) lahir buku-buku tentang pers ini akan menjadi pembelajaran yang baik,”katanya.

Sebelumnya MS Kaban saat membuka acara bedah buku itu, mengatakan buku yang ditulis H Sofyan Lubis memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan pers masa mendatang.

Sebelumnya dialog,H Rambe Kamarul Zaman, MSc anggota Komisi VI DPR RI mewakili undangan menyerahkan buku karya H Sofyan Lubis kepada Ketua PWI Cabang Sumatera Utara, H A Muchyan AA. Turut hadir, Pj Walikota Medan, Drs H Afifuddin Lubis, MSi, Kapoldasu diwakili Kadiv Humas Poldasu, Kombes Pol Baharuddin Djafar, Gubsu diwakili Kaban Infokom Sumut, Drs Eddy Sofian, MAP, mewakili Pangdam I/BB, pemimpin media cetak dan mahasiswa, serta sejumlah tokoh pers di Sumatera Utara. (Rel)