Jas Aziz AngkatTerbelah Dua

SATU per satu bukti kekerasan yang dilakukan massa pendukung rencana pemekaran Provinsi Tapanuli (Protap) yang menyebabkan tewasnya Ketua DPRD Sumut Aziz Angkat ditemukan

"Kami memukan baju dan jas yang digunakan bapak saya pada saat ke kantor. Kondisinya sudah koyak-koyak,” kata Agung Arif Wibowo Angkat, putra kedua Aziz Angkat kepada wartawan koran ini, kemarin (5/2).

Sebelumnya, lanjut Agung, Poltabes Medan telah melakukan penyitaan barang bukti berupa satu potong celana panjang warna coklat merek Star, satu potong kaos warna putih dengan kondisi koyak, dan celana dalam yang kondisinya juga koyak.

“Kami sudah serahkan barang bukti itu. Rencananya jas dan baju ini akan kami serahkan ke Poltabes Medan sore ini juga,” sebut Agung yang ditemui di rumahnya Jalan Eka Rasmi Gang Pipa Air Bersih, Medan.

Kondisi jas warna coklat terbelah menjadi dua. Sejauh ini kata Agung pihak keluarga tidak tahu kemana belahan jas tersebut.

“Yang kami dapatkan hanya ini saja, yakni sebelah jas, itu pun kondisinya sudah koyak,” terang Agung.


Demikian juga dengan baju kemeja liris-liris warna putih bercampur pink yang digunakan Aziz Angkat saat berangkat ke kantor DPRD Sumut. Kancing baju bagian atas putus, padahal kacing baju tersebut sebelumnya bagus. Bahkan, di bagian bawah baju tersebut terlihat semacam cap sepatu.

“Kami menduga itu bekas tendangan, karena jelas tapak sepatunya terlihat. Hal ini dikuatkan lagi dengan kancing baju yang putus di bagian atasnya,” beber Agung.

Sebelum berangkat ke kantor, Aziz Angkat menggunakan kemeja berwarna putih bercampur pink. Kemudian dipadu dengan celana warna coklat. Pada hari itu, Aziz Angkat sengaja menggunakan jas karena ingin melantik salah seorang anggota DPRD Sumut hasil PAW (Pergantian Antar Waktu) yakni Akman Daulay SE MM yang menggantikan Fachrizal Dalimunthe.

Belakangan, setelah kejadian jas tersebut sudah robek. Demikian juga dengan baju kemejanya yang dipenuhi beberapa tapak sepatu seperti tendangan. Tapi, sambung Agung dia masih melihat pulpen ayahnya yang masih tergantung di kantor depan baju tersebut. “Pulpen ini belum ada kami sentuh. Memang, pulpen ini punya bapak yang selalu dibawanya setiap kali menandatangi berkas penting,” ucap Agung.

Jas dan kemeja itu ditemukan di lokasi kejadian yakni di ruang paripurna DPRD Sumut.

Rencananya, kemeja dan jas tersebut akan dibawa ke Poltabes Medan sebagai tambahan barang bukti. “Kami berharap dengan tambahan barang bukti ini, akan memudahkan polisi dalam menentukan titik terang penyidikan,” harap Agung.

Lagi-lagi dia memohon kepada pihak Poltabes Medan dan Poldasu agar secepatnya memproses kasus ini hingga ke pengadilan.

Agung menegaskan, dari seluruh barang bukti yang diserakan ke Poltbes Medan dan rekaman video-video yang ditayangkan media elektronik, maka Agung yakin bapak tewas karena penganiayaan.

“Ini jelas penganiayan, bahkan rencana pembunuhun. Kami dari pihak keluarga berharap secepatnya kasus ini dituntaskan, dan pelakunya dihukum seberat mungkin,” pungkasnya.(dra/Dikutip dari: hariansumutpos.com Jumat 6 Pebruari 2009).