Drs H Abdul Azis Angkat Politisi Berhati Lembut


Catatan Mayjen Simanungkalit

SEOLAH tidak percaya saja ketika Ketua DPRD Sumut Drs H Abdul Azis Angkat MSP, telah meninggal dunia. Pasalnya, sebelum memimpin rapat paripurna dewan tentang pelantikan anggota dewan pengganti Antar Waktu (PAW), Selasa pagi 3 Pebruari 2009 dia nampak segar.

Sambil menelepon dia masih sempat melambaikan tangan kepada sejumlah wartawan unit DPRD Sumut, ketika berjalan menuju ruang paripurna dewan di lantai dua. “Apa kabar Jenderal, amankan ?”, katanya sambil berjalan.

Bagi kalangan wartawan berpos di DPRDSU, Abdul Azis memang dikenal sebagai politisi berhati lembut. Dia yang akrab dipanggil “Bang Azis”, adalah politisi yang membuka akses sangat luas bagi wartawan. Jika berpapasan, dia selalu lambaikan tangannya dan bertanya apa kabar.

Dia terbuka untuk dijumpai kapan saja dan siap memberi informasi kepada wartawan, tentang berbagai hal. Terutama informasi seputar tugas dan fungsi legislatif, Bang Azis selalu terbuka.

Tapi itulah Drs H Abdul Azis Angkat MSP, yang Selasa (3/2/09) pukul 13.00 WIB kemarin meninggal dunia setelah didemo ribuan massa pendukung Protap. Dia jadi korban pemukulan, pengeroyokan, penganiayaan, ribuan massa brutal yang menginginkan pembentukan Protap. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Abdul Azis lahir di Sidikalang 10 Januari 1958 dan menamatkan pendidikan SD Zending Islam Medan tahun 1969. Melanjutkan pendidikan ke PGAN 4 tahun tamat tahun 1973, SP IAIN Medan tahun 1975, sarjana muda IKIP Medan tahun 1979, sarjana IKIP Medan tahun 1982 dan Pasca Sarjana Study Pembangunan FISIP USU Medan tahun 2005.

Abdul Azis memulai karir sebagai dosen di almamaternya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Medan yang kini berubah menjadi Universitas Medan (Unimed), namun akhirnya terjun ke dunia politik praktis.

Disaat jutaan orang berebut untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS), dia malah nekad mengundurkan diri. Padahal, saat mundur dari status PNS, golongan kepangkatannya sudah III D, suatu jenjang kepangkatan yang punya prosfek dalam karir seorang PNS di Perguruan Tinggi.

Dia menjadi Ketua DPRDSU pada 13 Pebruari 2009 melanjutkan sisa priode 2004-2009. Ayah empat orang anak dan suami dari Tiornalis Siregar itu, resmi mundur dari PNS tahun 1997.

Banyak orang mengejeknya saat itu. Bahkan diantara rekan satu profesi di Unimed, sempat ada yang menudingnya “gila” karena nekad terjun kedunia politik praktis. Azis Angkat (51) tidak sakit hati dan tidak pula ragu, sebab sudah menjadi pilihan hidupnya untuk konsentrasi di habitat barunya itu.

Tekad meninggalkan status PNS itu makin kuat, apalagi adanya Peraturan Pemerintah (PP) No 5 dan PP 15 tentang Pegawai Neger Sipil (PNS), yang tidak membolehkan PNS rangkap jabatan sebagai politisi.

"Bagi banyak orang boleh saja menuding saya setengah gila, meninggalkan status PNS yang dari segi jaminan hidup sudah sangat jelas. Namun ini menyangkut pilihan hidup. Saya enjoy di dunia politik”, katanya suatu ketika.

JENJANG KARIR

Sejak mahasiswa dia sudah terlibat diberbagai organisasi dan menjadi ketuanya. Pernah menjadi ketua Badko HMI Sumut (1980-1982), Wakil Ketua KNPI (1985-1991), dan lainnya.

Dalam menggeluti karir di dunia politik, Azis Angkat memulainya dari jenjang paling bawah. Dia masuk ke DPD Partai Golkar Sumut tahun 1985, setelah menjadi pengurus KNPI Sumut.

Awalnya dia hanya menduduki posisi ketua biro pendidikan kursus-kursus (1992-1997) di DPD Partai Golkar Sumut. Namun karir politiknya terus berkibar, sehingga tahun 1997 terpilih menjadi anggota DPRD Sumut dan sampai kini masih Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut.

Dia sudah menjadi anggota DPRD Sumut dalam dua priode, hingga terpilih menjadi ketua DPRD Sumut melanjutkan sisa priode 2004-2009. Dalam Pemilu 2009 mendatang, Partai Golkar mencalonkannya menjadi caleg DPR-RI periode 2009-2014 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut 3 dengan nomor urut 2.

Dalam paripurna pemilihan ketua DPRD Sumut dipimpin Pelaksana Ketua DPRDSU, Drs H Hasbullah Hadi SH SpN dihadiri Sekdaprovsu waktu itu, Aziz Angkat meraih 61 suara dukungan dari total 76 anggota dewan yang memberikan suara. Aziz mengalahkan Zaman Gomo Mendrofa yang hanya mendapatkan 11 suara, sementara empat suara dinyatakan batal dan sembilan anggota dewan tidak hadir.

Pemilihan dilakukan karena kekosongan posisi ketua dewan menyusul pengunduran diri H Abdul Wahab Dalimunthe. Partai Golkar sebagai partai asal mantan Ketua DPRDSU kemudian mengusulkan dua nama sebagai kandidat ketua dewan, yakni H. Abdul Aziz Angkat dan Zaman Gomo Mendrofa.

Kini tokoh masyarakat Pakpak Dairi juga dikenal sebagai salah seorang Penasehat DPP Persatuan Batak Islam (PBI) itu telah pergi untuk selamanya. Dia menghadap khaliknya, ditengah ambisi kelompok yang ingin membentuk Protap dengan jalan pintas.Main paksa, memaksakan kehendak.

Abdul Azis Angkat wafat karena mempertahankan prinsip dan kebenaran. Insya Allah, dia mati syahid.***