fashion pria

PROYEK JALAN DAN JEMBATAN ASAL JADI

Medan, (Lapan Anam)
Tim II DPRD Sumut menilai, peningkatan beberapa ruas jalan propinsi di Kabupaten Deliserdang yang dibiayai APBD Propsu TA 2007 terkesan asal jadi dan sarat korupsi. Kondisi jalan hasil pekerjaan yang belum satu tahun sudah rusak dan hancur-hancur di beberapa titik ruas jaln sepanjang 3-5 km yang dikerjakan.

Penilaian ini diungkapkan anggota tim II DPRD Sumut Drs Budi Mulia Bangun, saat meninjau beberapa proyek peningkatan jalan yang dikerjakan UPT-JJ Dinas Jalan dan Jembatan Propsu di Kabupaten Deliserdang, Jumat (7/11).
Budi Mulia Bangun mengatakan, dari beberapa proyek peningkatan dan perbaikan jalan propinsi di Kabupaten Deliserdang yang dikerjakan UPT-JJ, ada yang diragukan hasil pekerjaannya, seperti peningkatan jalan propinsi jurusan Gunung Meriah-batas Simalungun sepanjang 3 km dianggarkan di APBD 2007 sebesar Rp4,740 milyar, tapi kondisinya sekarang sudah rusak-rusak.
Padahal, kata Budi yang juga dari dapem Deliserdang, peningkatan jalan tersebut dikerjakan belum setahun, tapi ada 8 titik yang rusak dan berlubang-lubang terutama dijalur tikungan dan rawan kecelakaan. “Cepatnya jalan tersebut rusak, karena pekerjaannya asal jadi dan hasil pekerjaan tidak sesuai dengan anggaran yang dialokasikan,” ujarnya.
Dugaan yang sama juga dinilai Budi Mulia Bangun terhadap proyek peningkatan jalan propinsi jurusan Tanah Abang-batas Simalungun (m/d Bangun Purba arah Gunung Meriah) di Kabupaten Deliserdang yang dianggarkan di APBD 2007 sebesar Rp7,327 milyar lebih untuk sepanjang 5 km, tapi yang dikerjakan diperkirakan tidak sampai 5 km.
“Dari kondisi di lapangan, penggunaan anggaran itu tidak dapat diterima, karena hasil pekerjaan tidak sesuai yang dianggarkan dan diduga telah terjadi korupsi. Untuk itu diminta KPK turun untuk memeriksa pelaksanaan proyek maupun realisasi anggaran tersebut,” tegas Budi.
Dalam hal ini, tambah Budi, UPT-JJ Dinas Jalan dan Jembatan Propsu kurang perencanaan, karena drainase disepanjang jalan propinsi itu tidak berfungsi dan tersumbat akibat tumpukan-tumpukan pasir, sehingga dapt mengakibatkan cepatnya kerusakan jalan. Apalagi pembangunan drainase seperti di Jalan Linta Patumbak yang dianggarkan Rp671 juta lebih, kurang matang perencanaan, dikhawatirkan drainase tersebut tidak efektif. (ms)