Dari Parade Puisi di DPRDSU :


Menggelorakan Kepahlawanan
Tanpa Letusan Senapan

Catatan : Mayjen Simanungkalit

ADA pemandangan tak biasa di gedung DPRDSU pada Senin malam,10 Nopember 2008. Walau hujan turun deras, sejumlah orang berbaju batik,duduk khusuk menghadap pentas. Mereka tak bergeming oleh gemuruh petir, yang menyambar angkasa tanpa basa-basi.

Petinggi Sumatera Utara (Sumut) seperti Gubsu H Syamsul Arifin SE, mewakili Pangdam I/BB, mewakili Danlantamal Belawan, Pl Ketua DPRDSU Drs H Hasbullah Hadi SH,MkN, Pj Walikota Medan Drs Afifuddin Lubis,yang mewakili Kejatisu dan bahkan Kapoldasu Irjen Pol Drs Nanan Sukarna hadir disana.

Demikian juga para anggota DPRDSU, para Kepala Dinas dan Kepada Badan jajaran Pemprovsu. Bahkan tokoh lingkungan seperti Robert Valentino, juga nampak duduk khusuk bersama mantan ketua Panwaslih David Susanto SE.

Adakah unjukrasa di gedung dewan itu ? Jangan salah, mereka justru sedang mengikuti parade baca puisi, menyemarakkan hari pahlawan 10 Nopember. Acara tersebut, kata Drs H Yulizar Parlagutan selaku panitia, sudah yang kelima kalinya, sebagai kegiatan rutin tahunan DPRDSU dan Wartawan unit dewan.

“Kita perlu menggelorakan jiwa patriotisme dan kepahlawanan. Mewariskannya kepada generasi penerus. Kepahlawanan itu tidak mesti dengan letusan senapan dar der dor, tapi juga bisa digelorakan lewat puisi”, kata Gubsu Syamsul Arifin saat membuka acara itu.

Syamsul gelar Datuk Sri Lilawangsa Hidayatullah ini, malah langsung membacakan bait puisi karyanya sendiri berjudul 'Jeritan Pejuang'. Dia seolah menitipkan pesan, bahwa negeri ini harus dikawal dengan patriotisme.

Putra dari pejuang “Brandan Bumi Hangus” Hasan Perak ini, menyampaikan puisinya dengan gaya mendayu. Pesan yang disampaikan sangat mendalam dan mudah dipahami.

Sedangkan Ketua DPRD SU H Hasullah Hadi juga turut membacakan puisinya “Gila-gilaan lagi”. Puisi anggota Fraksi PDIP DPRDSU, Zakaria Bangun SH,MH berjudul “Masih Adakah Nurani” dibacakan Mayjen Simanungkalit. Sejumlah anggota dewan seperti Kamaluddin Harahap, Mursito kabukasuda, Sekdaprovsu RE Nainggolan, tokoh lingkungan Robert Valentino Tarigan dan lainnya, turut menunjukkan kebolehannya membaca puisi.

Demikian juga kapoldasu Irjen Pol Drs Nanan Sukarna membacakan puisi ciptaan sendiri berjudul 'Selalu Antara Engkau dan Tuhan'. Puisi ini oleh artis kondang Hj Neno Warisman yang tampil sebagai pembaca tamu, dianggap menjadi puisi terbaik karena dalam rangkaian bait puisi tersebut terselip pesan 'kejujuran'.

Suasana menjadi hening tatkala Neno membacakan bait-bait puisinya diiringi lantunan tembang dengan backing vokal dua puterinya. Menurut Neno, satu kata kejujuran kini mulai hilang, padahal kalimat itulah yang diharap mampu membawa kebaikan di negeri ini.

Bait puisi wanita berjilbab ini, sarat pesan diantaranya bagaimana harkat seorang Ayah dalam sebuah keluarga. Bagaimana pula Ayah memperlakukan keluarganya, mendidik anak-anaknya.

Mendorong seorang anak untuk punya masa depan bukan diukur dengan sebuah angka di sekolah, hingga Ayah jangan memaksakan kehendak dan tak jujur hanya untuk mendapatkan angka itu.

Hampir semua thema puisi yang dibacakan, bermuara kepada upaya menggelorakan patriotisme dan pesan agar mewarisi kepahlawanan. Dan dalam acara itu, terbukti betapa Puisi juga bisa mengelorakan rasa heroisme luar biasa, tanpa harus ada bau mesiu di dalamnya. Rasanya masuk akal, jika kepahlawanan bisa digelorakan tanpa harus dihubungkan dengan senapan dan bunyi dar der dor, seperti kata Gubsu.

Banyak yang bertanya, mengapa parade puisi DPRDSU dan Wartawan digelar bertepatan pada hari Pahlawan 10 Nopember ?

Menurut panitia,selain hari pahlawan bagi bangsa kita memiliki makna yang sangat sakral. Semangat patriotisme para pahlawan, harus terus kita gelorakan guna meneruskan perjuangan para pahlawan tersebut.

Disisi lain, Presiden Kennedy juga pernah mengatakan, jika politik bengkok maka puisi bisa meluruskan. Lalu apakah dunia politik kita sudah bengkok hingga perlu parade puisi ? Entahlah.***