TATAP Jangan Jadi Pahlawan Kesiangan

Medan (Lapan Anam)
Tim Advokasi Tragedi Protap (TATAP) di Jakarta diminta agar jangan menjadi pahlawan kesiangan, terkait penanganan hukum para tersangka demo maut pendukung Provinsi Tapanuli (Protap).

Penegasan itu disampaikan Kantor Hukum Sitompul & Associates dan Martin Simangunsong & Partners dalam pernyataan, disampaikan kepada wartawan di Medan, Jumat (6/3).

Pernyataan ditandatangani masing-masing Bukit Sitompul SH, Martin Simangunsong SH,MHum, Rosmalina Sitorus SH,MHum, Luhut Situmorang SH, Johansen Simanjuntak SH, Herlita Rajagukguk SH, Suharto Butarbutar SH, Saut Purba SH dan Markus Siahaan SH.

Disebutkan dalam pernyataan, pihaknya menyesalkan sikap TATAP yang berkoar-koar di media massa, seolah telah sukses mendampingi para tersangka kasus Protap dengan tanpa memungut biaya sepeserpun alias gratis.

Sementara secara terbuka di media massa khususnya Harian Batak Pos edisi 6 Maret 2009 halaman 15, TATAP malah telah membuka dompet di Bank BCA untuk meminta sumbangan dalam penanganan kasus insiden Protap.

Kenyataan ini menurut Martin Simangunsong dan Sitompul, membuktikan TATAP tidak gratis membantu kasus tersangka Protap seperti koar-koar di media massa. Malah, sudah meminta-minta kesana-kemari dengan membuka rekening di Bank BCA.

“Meminta-minta kesana kemari untuk dana penanganan tersangka kasus Protap, sama saja ambil kesempatan dalam kesempitan diatas penderitaan orang lain”, demikian ditulis dalam pernyataan.

Martin Simangunsong dan Sitompul menegaskan, tanggal 3 s/d 13 Pebruari 2009 adalah masa mencekam, banyak yang takut ditangkap Polisi karena dikaitkan kasus Protap. Saat itu, TATAP tidak memiliki peran apapun untuk mendampingi para tersangka Protap.

Saat para mahasiswa ditangkap terkait kasus Protap, tidak ada yang mendampingi kecuali dari Kantor Hukum Martin Simangunsong SH,MHum dan Sitompul & Associates.

Setelah penangkapan berhenti dan proses di kepolisian sudah tahap pemberkasan, baru tanggal 16 Pebruari 2009 tim TATAP datang dari Jakarta. Dengan iming-iming gratis, TATAP berkoar-koar di media dan bertindak seolah-olah merekalah pahlawan.

Kenyataannya dilapangan, TATAP tidak pernah berkordinasi dengan pihak-pihak yang sudah mendampingi mahasiswa siang dan malam. Malah sekarang TATAP sudah membuka rekening meminta sumbangan, yang membuktikan mereka membantu bukan secara Cuma-Cuma.

“TATAP mengambil kesempatan dalam kesempitan, atau mengekploitasi penderitaan orang lain demi popularitas”, demikian pernyataan itu diakhiri.***