Sumut Berpotensi Jadi Sentra Jengkol di Asia


Medan (Lapan Anam)
Direktur Eksekutif Lembaga Pemberdayaan dan Penguatan Publik (LAMPIK), Mayjen Simanungkalit mengatakan, Sumatera Utara (Sumut) berpotensi menjadi sentra produksi komoditi Jengkol di kawasan Asia.

“Jengkol atau Jering merupakan tanaman yang banyak tumbuh di hutan-hutan Sumut dengan kualitas sangat baik”, katanya saat membuka Workshop Pengembangan Komoditi Jengkol Berbasis Eksport digelar LAMPIK di Medan, Sabtu (24/1).

Jengkol (Pithecollobium Jiringa atau Pithecollobium Labatum ) adalah tumbuhan yang mudah dikembangkan, tanpa membutuhkan perawatan rutin. Dibanding komiditi lainnya, Jengkol relatif bandel dan tahan banting terhadap gulma serta tidak rewel terhadap buruknya kondisi kultur tanah.

Dalam workshop diikuti petani dari Pahae Jae Taput, Simalungun, Sipirok dan Humbang Hasundutan yang berakhir Minggu 25 Januari 2009 itu, Mayjen Simanungkalit juga Ketua Kaukus Wartawan Peduli Petani dan Nelayan (KWPPN) menjelaskan prosfek pengembangan Jengkol di Sumut.

“Prosfek bisnis tanaman jengkol di Sumut masih cerah, karena pangsa pasar masih terbuka luas. Bahkan kondisi Sumut yang subur dengan lahan yang luas, berpotensi menjadi sentra produksi Jengkol di kawasan asia”, katanya.

Dia mengatakan, tiap tahun Sumut membutuhkan Jengkol dalam jumlah besar, namun baru terpenuhi 20 persen. Akibatnya Jengkol masih membutuhkan pasokan dari pulau Jawa, disamping pasokan dari Aceh dan Sumbar.

“Peluang ekspor Jengkol juga masih cerah, apalagi karena tanaman ini memeliki khasiat mencegah diabetes dan baik untuk kesehatan jantung. Tanaman jengkol sendiri diperkirakan mempunyai kadar penyerapan air yang tinggi dari dalam tanah”, katanya.

Dibidang konservasi, kata dia, pohon Jengkol diperkirakan dapat menyerap air lebih banyak dibanding tumbuhan lain. Dengan kata lain dengan ditanaminya pohon Jengkol di lereng-lereng gunung dan bukit disekitar sumber mata air maka kemungkinan besar terjadinya banjir akan sangat kecil . ***