Drs Amson Purba Caleg PDP


Bergerak Bersama Rakyat,
Itulah Jadi Kata Kunci


Kursi DPRD Sumut hampir tidak pernah kosong dari sosok wartawan. Di Pemilu 2009 ini,
beberapa nama wartawan juga tampil sebagai calon legislatif (Caleg) satu di antaranya Drs Amson Purba, Wartawan Harian Perjuangan, mantan Wakil Ketua PWI Sumut.

Jurnalis alumni Fakultas Sospol UDA ini mengawali karir kewartawanan di harian Waspada 1985, lanjut ke harian SIB kemudian di harian Perjuangan, menjadi calon DPRD Sumut nomor urut 1 (satu) daerah pemilihan (Dapil) Sumut 2 (Deliserdang).

Mengapa tertarik menjadi dewan dan apa yang diperbuat jika terpilih ? Berikut ini wawancara singkat dengan caleg Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) yang selalu tampil humoris ini.

Kendati didirikan oleh beberapa dedengkot perpolitikan di Negara ini namun partai yang mengusung anda merupakan pendatang baru, optimisme apa yang anda harapkan sehingga ikut “demam” caleg Pemilu 2009 ini.

Selalu optimis sudah menjadi tradisi saya. Mungkin karena tuntutan dan pengalaman hidup ini. Mungkin itu sebagaian besar juga dibentuk oleh tuntutan profesi ini, sudah 24 tahun saya geluti. Soal PDP partai baru lalu saya menjadi caleg DPRD Sumut-nya bagi saya itu adalah proses kehidupan.

Dalam hidup ini tentunya kita hanya mempersiapkan diri dan berusaha sebisanya, apapun profesi kita yang terpenting harusnyalah bermakna bagi orang lain. Saya tidak pernah nyata-nyata berobsesi jadi caleg tetapi beberapa tahun belakangan ini teman dan sahabat saya justeru menyarankan agar saya maju saja dalam dunia politik, jadi caleg.

Kalau kemudian saya diusung PDP saya menyikapi itu sebagai proses hidup. Sebagai insan beragama, saya sangat percaya posisi dan kedudukan siapapun juga dalam masyarakat sudah ada yang mengaturnya. Saya terdorong jadi caleg karena di partai baru PDP digelorakan semangat kegotongroyongan, saya juga melihat semangat kebangsaan atau nasionalismenya kental, tanpa itu manalah mungkin kita bisa menegakkan merah putih.

Sejak awal feeling saya mengatakan PDP akan diterima rakyat, dan benar setelah saya geluti di mana-mana juga PDP sudah mendapatkan dukungan rakyat. Saya sangat yakin perubahan menjadi lebih baik, gerakan untuk mewujudkan pembaruan di semua bidang hanya akan terjadi bila benar-benar bergerak bersama rakyat. Motto inilah yang akan saya pegang dan jadi kata kunci dalam kehidupan politik ini. Dan dengan komitmen itu saya yakin hasilnya pasti tidak akan akan pernah meleset.

Menjadi wartawan dan sebagai anggota Dewan rasanya memiliki benang merah yakni sama-sama memiliki hak kontrol. Dewan mewakili rakyat pemilihnya, wartawan mewakili pembacanya. Mengapa menjadi dewan, kan lewat wartawan juga anda bisa memperbaiki keadaan.

Tak bisa dibantah pertanyaan ini. Ada benarnya. Sebagai wartawan tentu juga sudah jadi komitmen , wartawan berpihak kepada rakyat banyak, ,memihak orang yang butuh bantuan, membantu perjuangan orang-orang kecil dan tak punya apa-apa. Selama ini kita sudah berteriak dari luar ring. Teriakan kita secara kelembagaan pun sering terkontaminasi sistem.

Saya pribadi dulu menolak bingkisan akhir tahun perusahaan tertentu karena rakyat menentang keberadaannya, teman saya ada juga yang mau terima. Wartawan dan medianya kan di luar sistem, sekarang PDP termasuk saya di dalamnya mau memasuki system, tidak hanya berteriak tetapi ingin melakukan pembaruan di dalam sistem .

Boleh juga dibilang wartawan dan media adalah motor penggerak atau yang mempengaruhi sistem. Kita lihat pengalaman, ternyata selama ini bisa juga roda motornya tak bergerak lagi karena faktor atau permintaan aparat dalam system. Kalau saya masuk system, tak akan pernah menyuruh motor berhenti tetapi bersama-sama membenahi dan memperbaiki yang belum beres itu. Ha ha ha haa..

Janji apa yang ingin anda wujudkan agar anda bisa terpilih, karena kalau kita lihat Obama terpilih karena menjanjikan perubahan?

PDP itu, tulisan Pembaruan-nya menjadi sangat besar. Itu artinya semangat melakukan pembaruan itu akan sangat ditonjolkan dan itulah yang menjadi trade markj partai ini berkiprah. Wah berarti sama dengan janji Obama-lah, pembaruan itu kan sama artinya dengan perubahan menjadi lebih baik. Haa haa haa haaa.

Tapi bagi saya pribadi apapun profesi saya akan sungguh-sungguh menggelutinya. Jadi wakil rakyat berarti siap mengurusi persoalan yang menjepit rakyat. Saya tidak akan pernah muluk-muluk, di Sumut ini seharusnya kita semua sama-sama mewujudkan visi Gubsu Syamsul Arifin rakyat tidak lapar, rakyat tidak sakit, rakyat tidak bodoh dan punya masa depan.

Motto saya kurang lebih tidak jauh dari visi misi Pak Haji itu yakni : Simpul simpul yang mambuat miskin dan terbelakang harusnya diperbaiki hari ini juga! Artinya tugas kita ke depan masih sangat berat tetapi jika kita sama –sama pasti itu bisa terwujud.

Pemilu kali ini kan menggunakan suara terbanyak, karena itu meski anda berada di nomor urut satu belum tentu anda bisa masuk jika rekan di bawah anda bisa mengungguli anada dalam perolehan suara. Apa yang anda lakukan untuk memperoleh suara sebanyak-banyaknya.

Enaknya tentu perlu saya britahu dulu, saya menjadi caleg nomor urut satu tidaklah karena membayar kepada pemimpin partai. Artinya menurut panilaian partai saya mungkin punya kualifikasi yang lebih baik, kapasistas saya mungkin agak lebih baik dibanding saudaraku calon-calon yang ada lainnya.

Tetapi sejak awal kami sesama calon sudah menyikapi ini dengan semangat berlomba-lomba memburu suara rakyat . Jadi sebenarnya tidak ada masalah kalau pun belakangan MK membuat keputusannya. Soal siapa nantinya duduk atau tidak duduk menjadi wakil rakyat, kami sudah satu bahasa itu adalah urusan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tetapi sejak lama juga di antara kami berkembang wacana, supaya tidak repot-repot dan jika rakyat berkehendak yang terbaik sebetulnya buat PDP mendapat dua kursi tidak hanya satu kursi dari Deliserdang kita ini. Haa haaa haaa! ***