DPRDSU dan Sekdaprovsu Bahas PAD BUMD

Medan, (Lapan Anam)
Komisi C DPRDSU dan Sekdapropsu selaku pemegang saham 9 BUMD membahas upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah, dengan adanya perubahan visi dan penambahan penyertaan modal masing-masing BUMD.

Pembahasan upaya peningkatan PAD Sumut itu dilakukan dalam rapat dengar pendapat dengan Sekdapropsu RE Nainggolan didampingi para dirut dan direktur BUMD-BUMD Propsu, dipimpin ketua komisi Drs Yulizar P Lubis, Rabu (7/1) di gedung dewan.

Dalam pertemuan itu, Sekdapropsu menggambarkan kondisi perkembangan 9 BUMD milik Pempropsu satu persatu, mulai dari PT Bank Sumut, PT Perkebunan Sumut, PT Asuransi bangun askrida (Askrida), PT Kawasan Indonesia Medan (KIM), PDAM Tirtanadi, PD Perhotelan Propsu, PD Aneka Industri dan Jasa (AIJ), PT Pembangunan Prasarana, PT Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (PER) Sumut.

Sekdapropsu menyebutkan, memasuki era globalisasia ekonomi dibutuhkan perusahaan-perusahaan kuat, tangguh dan berdaya saing tinggi, termasuk BUMD di lingkungan Pempropsu. Seperti PT Bank Sumut sejak 2006 telah keluar dari rekapitalisasi, dimana Pempropsu dan Pemkab/Pemko se-Sumut telah membeli seluruh saham pemerintah pusat dan memperoleh laba bersih tahun 2008 sebesar Rp250 milyar.

Saat ini penyertaan modal pada PT Bank Sumut sedang dibahas di
DPRDSU. Dari gambaran umum PT Perkebunan bergerak dibidang industri perkebunan kelapa sawit dan karet, telah berubah bentuk hukum dari PD jadi PT dengan terkahir akte perubahan anggaran dasar PT Perkebunan disahkan Menhum dan HAM 11 Desember 2008.

Sedangkan pada PT Askrida, Pempropsu ikut sebagai pemegang saham dengan modal disetor Rp450 juta atau 0,33 persen. Demikian halnya di PT KIM, Pempropsu memiliki saham 30 persen

Disebutkan, setoran modal Pempropsu ke PADM Tirtanadi hingga 2008 sebesar Rp116,777 milyar lebih, PD Perhotelan mengelola hotel Dirga Surya dan sejak 2003 dikerjasamakan dengan PT Cakrawala Dekatama dengan kontribusi 2008 Rp550 juta.

Sedangkan PT Pembangunan Prasarana dengan kepemilikan saham Pempropsu dan Pemko Binjai modal dasar Rp20 milyar diharapkan 2009 telah beroperasi. Sedangkan PT PER modal dasarnya direncanakan Rp50 milyar. (ms)