Cegah Flu Babi Dngan Perbaikan Sanitasi


Medan (Lapan Anam)
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Utara (Sumut) Prof.Syamsul Arifin SH.MH menganjurkan warga masyarakat memperbaiki lingkungan, khususnya lingkungan peternakan babi guna mencegah beredarnya flu babi di Indonesia.

“Meski belum ditemukan di Indonesia, namun kewaspadaan harus tetap dilakukan. Semua pihak harus turut mencegah penyebaran flu babi dengan cara pembersihan dan memperbaiki sanitasi dan kesehatan lingkungan”, katanya menjawab wartawan di Medan, Selasa (28/4).

Syamsul Arifin yang kebetulan baru pulang dari Cancun Mexico menghadiri pertemuan nrg4SD (networking regional government for Sustainable Development) pada 21-23 April, menyatakan kewaspadaan itu perlu namun tidak harus panik.

Dia mengaku kagum dengan cara Negara Prancis khususnya kota Mexico dan sejumlah Negara di kawasan eropa yang tanggap menyikapi penyebaran flu babi tersebut. Mereka dengan cepat mensosialisasikan dampak bahaya penyakit tersebut, tanpa membuat kepanikan ditengah-tengah warganya.

Mexico misalnya, ketika Syamsul Arifin berada disana nampak sudah mengintensifkan karantina dan pengawasan bandara international sebagai tempat masuknya (entry point) penyakit.

“Pengawasan dan pendeteksian dilakukan bagi semua pendatang yang memasuki atau pun transit di bandara international dengan melakukan deteksi dini”, katanya

Pemerintah Prancis juga memberi instruksi rinci kepada warganya mengenai pencegahan dan penanganan pertama infeksi flu babi yang meneror dunia itu.

Ini terbukti saat dia kembali ke tanah air pada 24 April lalu, saat transit di London, pemeriksaan di bandara dilakukan sangat ketat. Penumpang yang baru saja tiba diwajibkan mengisi questioner, dan harus melewati scan termal, untuk memeriksa suhu tubuh. Itupun setelah 45 menit tertahan di pesawat baru diperbolehkan turun.

"Melalui scan termal diketahui lewat suhu tubuh seorang penumang apakah yang bersangkutan tengah sakit flu atau demam. Jika ternyata suhu tubuhnya tinggi, akan dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh petugas" tutur Prof Syamsul Arifin.

Di Mexico sendiri, masyarakat juga mengantisipasi terjangkit virus flu babi, dengan memakai masker dalam kehidupan sehari-harinya.

Terkait pencegahan flu babi di Sumut, menurut Prof Syamsul Arifin, pihaknya tetap melakukan pengamatan dari segi lingkungan yakni mengawasi lokasi lingkungan ternak babi, khususnya dari dampak fisika, biologi dan ekonomi budaya (alamnya) atau dari sektor amdalnya.

Dia mensinyalir, merebaknya flu babi di Mexico akibat sanitasi lingkungan sekitar yang tidak terjamin. Karena itu dia mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan sehingga sanitasi lingkungan dapat tetap terpelihara.

Seperti diberitakan, negara-negara asia termasuk Indonesia sudah menyatakan status siaga 1, terhadap virus mematikan yang mulai menyebar di Eropa ini. Flu babi adalah penyakit pernapasan yang menjangkiti babi.

Disebabkan oleh influenza tipe A, wabah penyakit ini pada babi rutin terjadi dengan tingkat kasus tinggi namun jarang menjadi fatal. Penyakit ini cenderung mewabah di musim semi dan musim dingin tetapi siklusnya adalah sepanjang tahun.***