Ahmad Aswan Waruwu:

INDONESIA DALAM KEMEROSOTAN INDUSTRI DAN PERDAGANGAN
Catatan Highlight Diskusi ’nBASIS ”Tanda Tanya Indonesia”
(22-27 April 2009 di Medan)

Banyak negara di Asia yang menjadi maju dan mampu mensejahterakan rakyatnya serta meningkat pula pengaruhnya dalam percaturan dunia dalam waktu yang relatif singkat. Kondisi itu tidak didasarkan pada angan-angan, melainkan kepemimpinan nasional yang visioner, kompeten, memiliki sense of enterpreneurship, berani, percaya diri dan, tentu, bersemangat kemandirian yang tidak dibuat-buat. Kita memerlukan itu semua, sembari melakukan optimalisasi potensi ekonomi nasional untuk kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.

Kepemilikan atau dominasi modal asing atas industri nasional semakin kuat. Ini menyebabkan perekonomian nasional pincang. Pada gilirannya pertumbuhan ekonomi pun dapat terancam stagnan atau bahkan terpuruk.

Efek dominonya bisa amat luas dalam lapangan kehidupan sosial maupun politik. Sektor-sektor yang didominasi asing itu terutama adalah retail. Menjamurnya pasar swalayan skala besar dan pusat perbelanjaan baru milik asing menjadi salah satu bukti untuk itu.

Demikian Ahmad Aswan Waruwu pada diskusi Tanda Tanya Indonesia yang diselenggarakan oleh ’nBASIS baru-baru ini di Medan.

Menurut Mhd Aswan Waruwu, industri rokok dan batik yang dahulu dikuasasi oleh modal lokal, kini sudah beralih ke tangan asing. Mengapa terjadi demikian? Dominasi asing itu adalah fungsi dari regulasi yang dilahirkan pemerintah.

Pemerintahlah yang membuka peluang besar dan tidak selektif dalam proses pemberian izin investasi. Jika investasi itu tidak memicu penyerapan tenaga kerja yang memadai, hanyalah dikarenakan sifat modal asing yang padat modal dan padat teknologi. Mengereka memang ingin mengejar keuntungan besar dengan efisiensi yang amat ketat.

Pada bagian lain calon anggota DPRD Sumut No urut 2 dari Partai Amanat Nasional (Taput, Tobasa, Samosir, Humbahas, Sibolga dan Tapteng) ini mengatakan, dampak yang paling terasa ialah pada pasar-pasar tradisional. Keberadaan pasar tradisonal beberapa tahun belakangan ini semakin tergilas oleh maraknya hipermarket dan minimarket yang tumbuh subur.

Dalam bersaing dengan pemodal asing, pasar tradisonal itu tentu tak berdaya. Bukan hanya unggul dalam modal dan teknologi, tetapi lobby-lobby kepada pembuat kebijakan untuk memberi pemihakan kepada mereka jelas diungguli oleh modal asing, begitupun soal keluasan dan kekuatan jaringan. Di Jakarta misalnya saat ini diperkirakan sekitar 80 % pasar tradisional mengalami kegoncangan hebat, kurang mampu tumbuh karena minim keuntungan. Itu sebabnya beberapa pasar tradisional saat ini bahkan sudah diisi oleh produk asing.

Kita sudah mencatat berapa lama penguasaan pasar internasional di Indonesia seperti carrefour dan giant (Hongkong). Menurut Bank Dunia tidak ada supermarket di manapun di dunia yang begitu tergantung kepada produk impor seperti apa yang menjadi kenyataan di Indonesia.

Menurut catatan sekitar 60 % sayur mayur dan buah-buahan yang di jual di jaringan supermarket di Indonesia adalah produk impor (Natawidjaja, 2006). Angka ini 2-3 kali lebih besar dari produk impor yang dipasarkan di supermarket yang ada di Thailand, Meksico, Cina dan Guatemala.

Aswan amat optimis, di tangan pemerintahan yang bijak Indonesia bisa berubah. Amat diperlukan perubahan paradigma dalam pembangunan industri dan perdagangan. Indonesia itu sebuah negara besar. Sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya melimpah, begitu pun sumberdaya pendukung.

Noted & Reported by: Ikhtiyar ZNS,
Divisi Jaringan nBASIS