BLH Sumut Akan Ubah Sampah Menjadi Duit


Catatan : Mayjen Simanungkalit

DI TANGAN orang kreatif, apapun ternyata bisa jadi duit. Termasuk sampah yang selama ini dianggap sangat menjijikkan dan menjadi masalah pelik di kota-kota besar, jika di olah dapat menjadi produk bernilai tinggi.

Ya, sampah dapat diubah menjadi sumber penghasilan. Bukan saja untuk kelompok tertentu, tapi malah menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) untuk suatu pemerintahan kota.

Impian inilah kini yang sedang digagas Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Utara (Sumut). Kepala BLH Sumut Prof H Syamsul Arifin SH,MH berobsesi, akan mewujudkan impiannya itu tahun 2009 ini di kota Medan.

“Kita akan menggandeng Koperasi dan Kadin guna memuluskan impian merubah sampah di Medan menjadi duit. Kita akan jadikan sampah kota Medan menjadi pupuk organik”, katanya kemarin di kantornya Jl.Tengku Daud Medan.

Sebagai langkah awal, BLH bersama Pemko Medan pada awal Mei 2009 ini akan menandatangani Memorandum of Understanding (Mou) atau kesepakatan kerja . Langkah ini kata dia, selain membantu mengatasi masalah sampah di perkotaan, juga untuk merealisasikan amanah Undang-Undang No 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.

Langkah BLH Sumut ini tentu sangat pantas didukung semua pihak, sebab akan membantu mengatasi masalah sampah di ibukota Provinsi Sumut ini. Bayangkan, sebagai kota berpenduduk sekitar 2 juta lebih, kota Medan tiap hari menghasilkan sampah domestik tidak kurang dari 70 ton.

Tidak heran jika dalam dekade terakhir, masalah sampah menjadi persoalan sulit ditanggulangi. Dinas Kebersihan setempat mengaku kewalahan untuk melakukan pengelolaan sampah, mengingat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kelurahan Terjun dan Namo Bintang, tak lagi mampu menampung sampah yang sedemikian banyaknya.

Maka dengan adanya rencana BLH Sumut untuk mendaur ulang (recycling) sampah di Medan menjadi pupuk organik, persoalan sampah tampaknya bakal segera terselesaikan. Dari 75 ton sampah per hari yang ada di kota Medan, ditargetkan dapat menghasilkan 100 ton pupuk organik per harinya.

Ini tentu peluang bisnis sangat menggiurkan bagi Pemko Medan. Karena untuk pemasaran pupuk organik yang dihasilkan nanti, selain bekerjasama dengan Kadin dan Koperasi, juga akan dijalin kerjasama dengan Departemen Pertanian (Deptan).

Bayangkan jika tiap hari sampah di kota Medan menghasilkan pupuk organik 100 ton, tentu menjadi sumber PAD sangat menggiurkan. Apalagi potensi pasokan sampah sebagai bahan baku pupuk organik tidak pernah henti, seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan kota yang sangat pesat.

Multiplayer effek dari proyek “gila” ini tentu akan sangat besar, sebab akan memunculkan sentra-sentra ekonomi lanjutan. Dengan proyek ini, maka akan ada transaksi jual beli sampah ditingkat lingkungan, yang tentu saja akan menjamin terujudnya lingkungan yang bersih dan asri.

Disisi lain juga akan muncul industri kecil yang menyediakan tong sampah multi kamar, yang secara manual akan menyeleksi jenis sampah domestik di lingkungan pemukiman. Pola fikir masyarakat kota Medan tentang sampah juga akan berangsur berubah kearah positif, dengan pengutamaan pola hidup bersih. Sampah tidak lagi menjadi masalah, tapi malah menjadi barang bernilai ekonomis.

Karena itulah, rencana daur ulang sampah ini perlu di apresiasi positif, apalagi mengingat masyarakat petani saat ini cukup sulit untuk memperoleh pupuk. Dengan dihasilkannya pupuk organik dalam jumlah melimpah, diharapkan mampu menjadi salah satu solusi bagi petani. Semoga saja. ***