Waspadai Migrasi Setan Timur Tengah


Oleh Mayjen Simanungkalit

MUSIM haji telah tiba. Jutaan warga Indonesia yang tahun ini melaksanakan ibadah haji ke tanah suci akan segera pulang. Kita perlu was-was, sebab setan-setan baru akan masuk ke Indonesia, dengan membonceng jamaah haji tersebut.

Kita sering lalai soal ini. Setiap kita menyambut kedatangan jamaah haji, kita hanya terfokus pada idiom haji mabrur. Yakni manusia-manusia yang suci, yang berjiwa Makkah dan berhati Madinah. Tamu-tamu Allah itu, seolah semuanya sudah mencapai haji yang mabrur.

Padahal, sesungguhnya, setiap kita menyambut kedatangan jamaah haji dari Makkah, kita harus waspada terhadap masuknya setan-setan baru. Sebab, dari sekian juta penduduk kita yang berangkat ke tanah suci Makkah, tidak sedikit yang justru tertumpangi setan-setan Timur Tengah yang bersemayam dihati jamaah haji itu.

Jangan silap, jajirah Timur Tengah seperti Makkah dan Madinah adalah basis massa setan-setan professional. Itu sudah diakui kitab-kitab agama samawi (agama yang diturunkan dari langit), sehingga Allah Swt sendiri merasa perlu menurunkan Nabi dan Rasulnya hanya di Timur Tengah.

Adakah nabi diturunkan di Pulau Samosir ? Tentu tidak, tapi semuanya di Timur Tengah. Kenapa? Antara lain, karena di Timur Tengah itulah basis kebobrokan moral yang tentu dimotori mahluk penantang Allah Swt yakni SETAN.

Sementara, setiap musim haji puluhan juta ummat islam dari belahan dunia berkunjung ke makkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji. Dari tanah air, mereka sudah membawa setan yang bersemayam dihati masing-masing, lalu sampai di Makkah dan Madinah, mereka bertemu lagi dengan setan-setan baru yang datang dari belahan dunia.

Nah, setan-setan ini tentu akan berdiskusi dan berdialog, bertukar informasi tentang teknik-teknik mutakhir untuk menyesatkan manusia sebagai misi tunggal mahluk Setan. Setan dari belahan dunia saling berbagai strategi.

Disisi lain, jamaah haji kita tidak semua mampu menjadi haji yang mabrur. Maklum, ongkos yang mereka gunakan untuk naik haji juga banyak yang tidak halal. Malah ada yang menggunakan hasil korupsi, hasil menipu. Diantaranya malah, dengan membebankan ongkos kepada jamaah lain dengan dalih sebagai pejabat pemerintah, pejabat Depag, atau pimpinan KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Dari ongkos saja sudah tak benar, bagaimana pula mau jadi haji Mabrur ?

Kelompok-kelompok jamaah haji macam inilah yang rentan terhadap migrasi setan Timur Tengah. Mereka pun sesungguhnya sadar tak layak menjadi tamu Allah di tanah suci, karena menggunakan ongkos yang tidak halal. Eceknya, undangn untuk mereka tidak asli. Mereka datang sendiri tanpa diundang, tanpa dipanggil.

Ingat, yang wajib naik haji itu adalah ummat islam yang memiliki kesanggupan dari berbagai hal. Sanggup dari segi kesehatan, ilmu pengetahuan, ongkos yang halal.

Ibadah Haji, menurut Wahbah Zuhaeli dalam bukunya Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh, berarti mengunjungi Kabah untuk melaksanakan beberapa perbuatan tertentu, di tempat-tempat tertentu, dan dalam waktu tertentu pula. Kegiatan ibadah itu dengan sendirinya mengandung makna ritualitas yang sangat tinggi baik dari segi simbol, sejarah, maupun sosiologi.

Semua ritual tersebut bersifat simbolik. Semuanya memiliki makna tersendiri. Melempar jumrah, misalnya. Secara simbolik, ritual ini berupa kegiatan melemparkan batu-batu kecil ke sebuah tugu yang berdiri tegak, sebagai asumsi pelemparan dan permusuhan terhadap setan dan iblis.

Secara substansial, ritual simbolik ini dapat diinterpretasikan sebagai komitmen seorang muslim untuk mengekang segala bentuk tindak pembudakan yang diarahkan nafsu setaniahnya. Ritual melempar jumrah dapat diartikan sebagai simbol komitmen pembebasan seorang muslim dari potensi orientasi-orientasi kejahatan yang ada dalam dirinya.

Jemaah haji seharusnya menjadi haji mabrur. Karena inilah predikat tertinggi yang ingin dicapai dalam menjalankan ibadah itu. Rasulullullah SAW bersabda tentang haji mabrur: Artinya; ‘Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga. (HR. Al-Bukhari 1773, Muslim 1350).

Tentang ini, Al-Allamah Al-Munâwi berkata ketika menjelaskan makna ‘haji mabrur’ : ‘Maknanya adalah haji yang diterima, yaitu haji yang tidak tercampur dengan dosa apapun, dan diantara indikasi diterimanya adalah ia kembali melakukan kebaikan yang pernah ia lakukan dan ia tidak kembali melakukan kemaksiyatan.’ (Faidhul Qadîr oleh Al-Allamah Al-Munâwi 3/520)

Namun jika keberangkatan naik haji ke baitullah, diawali dengan menipu Allah Swt, bagaimana mungkin hal itu terujud ? Jika ongkos naik haji dari hasil korupsi, menipu dan sejenisnya, apa bisa haji mabrur ?

Jelasnya, tidak semua jamaah haji kita akan memperoleh predikat haji mabrur. Mereka-mereka ini mungkin malah menjadi penyebar setan-setan baru. Mereka gagal membunuh setan yang bersemanyam dihatinya, tapi malah menambah jumlah setan dihatinya.

Setan-setan Timur Tengah yang selama ini bergerilya di tanah suci, masuk kehati jamaah dan bergabung dengan setan yang sudah ada sebelumnya. Setan-setan ini, diantaranya akan ikut terbawa ke Indonesia, saat jamaah haji itu kembali ketanah air.

Jamaah yang tertular setan Timur Tengah ini sulit dideteksi, sebab bersifat ghoib dan tidak kasat mata. Paling-paling untuk menandai adanya jemaah haji yang tertular setan Timur Tengah, adalah dengan melihat prilaku sang Haji itu setelah tiba di tanah air.

Adakah mereka makin baik prilakunya ? Adakah ibadahnya makin khusuk ? Apakah mereka akan berhenti korupsi ? Berhenti menipu ?

Jika setelah kembali ketanah air, jamaah haji masih korupsi atau malah makin serakah, itu berarti setan masih bersemayam dihatinya. Malah bisa jadi, setan tanah air yang selama ini menguasai hatinya, berkolaborasi dengan setan Timur Tengah yang dibawanya saat naik haji, menjadikan jiwanya makin kosong.

Kita harus waspadai setan-setan baru yang menyusup dihati jamaah haji yang akan segera tiba ditanah air. Karena jika setan-setan itu terus berkembang biak, menyebar dan tertular kehati kita yang belum haji, dampaknya akan berbahaya bagi bangsa kita.

Cukuplah setan yang ada ditanah air menjadi musuh kita, tidak perlu ditambah lagi dengan setan-setan baru yang berdedikasi tinggi dan terlatih. Maka hati-hatilah migrasi setan Timur Tengah. ***