Orang Gila Mengatur Lalulintas

TADI pagi, Jumat 27 Desember 2008, aku lewat Jalan Kejaksaan, guna mengantar undangan pesta pernikahan putri Sekjen DPP PBI (Persatuan Batak Islam), Drs H Zulpadly Sirait kepada sahabatku Abyadi Siregar di Harian Medan Bisnis Jalan S Parman dan Agus Salim Ujung di KPK Pos Jalan Gatot Subroto Medan.

Ketika melewati persimpangan Jalan Kejaksaan-Jalan Teuku Umar, lalulintas sangat padat. Lampu merah ngadat, sedangkan kenderaan masing-masing membunyikan klakson. Nampak betul setiap orang ingin segera sampai ditujuan.Masing-masing dikejar waktu.

Parahnya petugas Polantas tak ada disana. Malah ada orang gila yang sibuk mengatur lalulintas kenderaan, dengan melambaikan tangan persis seperti dilakukan petugas Polantas. Bah, kemana pula Polantas itu ?

Bayangkanlah jika orang gila mengatur lalulintas. Sedangkan petugas Polantas yang ramah, mengumbar senyum dan sopan, ampun menghadapi ulah pengendara. Konon pula orang gila ? Kacau balau. Semberawut, amburadul, marsamburetan dan heang.Bah, jadi emosi pula aku.

Tapi, beginilah potret buram kota Medan, oknum petugas lalai bertugas. Penyaklit PNS yang ugal-ugalan dalam bekerja, telah menular kepada sahabatku di Polantas. Mereka entah dimana saat rakyat butuh.

Potret serupa juga kita jumpai di persimpangan Jalan Juanda, persis depan Istana Plaza yang sial itu. Disini, tingkah oknum Polantas malah membingungkan rakyat.

Petugas Polantas bukan mengatur lalulintas, tapi malah mengintip siapa yang melanggar lalulintas. Uniknya, petugas Polantas itu sembunyi dibalik tenda yang mereka bngun dipinggir jalan. Mereka bukan mencegah pelanggaran, tapi mengintip siapa yang melanggar.

Setiap kenderaan yang melintasi lampu merah, langsung di stop. Supirnya diajak masuk tenda, entah untuk apa. Setiap keluar dari tenda itu, sopir selalu garuk kepala. Aku pun tak tahu mengapa.

Dunia memang sudah gila. Polantas yang digaji negara untuk mencegah pelanggaran, malah mengintip pelanggaran. Siapa yang salah, apakah tim Psikologi yang menyeleksi mereka dahoeloe kurang selektif hingga orang seperti itu bisa diterima jadi petugas Polantas ?

Tapi siapa sesungguhnya yang gila ? Polantas atau orang gila Polantas ? Peduli amat soal itu, toh si Amat pun tak peduli. ***