Mengharap Perubahan di Luat Pahae

Medan (Lapan Anam)
Peluang untuk mendapatkan dukungan masyarakat tetap tidak pernah sama di antara partai dan figur politik, dan jika pun figur tertentu yang kita dukung kelak terpilih mernjadi anggota legislatif, belum tentu ia memiliki kemampuan untuk mengemban aspirasi yang kita ajukan. Itulah kenyataan politik yang harus kita terima. Tetapi saya optimis bahwa Pemilu 2009 dapat menjadi awal munculnya harapan perubahan di Luat Pahae.

Demikian H Burhanuddin Napitupulu dalam sambutannya pada pertemuan masyarakat asal Luat Pahae di kawasan Jalan Medan Tenggara Medan, Sabtu (13/12). Hadir dalam pertemuan itu tokoh-tokoh perantau asal Luat Pahae antara lain Nelson Parapat, Prof.Dr.Harun Sitompul, Tokoh Pers Mayjen Simanungkalit, praktisi hukum Lamsiang Sitompul, tokoh adat Huminsa Sitompul dan lain-lain. Dari kalangan politisi selain H.Burhanuddin Napitupulu hadir Jasa Sitompul (PIS), Jumongkas Hutagaol (PPRN) Husor Sitompul (PDK) dan Abyadi Siregar (PAN).

Pernyataan itu disampaikannya menanggapi paparan Ketua Umum MPP Persatuan Luat Pahae Indonesia Dr.Hulman Sitompul, SpOG tentang peluang dan harapan perubahan Luat Pahae Melalui Pemilu 2009. Dikatakan, untuk kondisi kita di Luat Pahae yang amat memerlukan pengaruh dan kebijakan politik untuk perubahan, amat diperlukan kecermatan menentukan pilihan politik. Faktanya, sampai saat ini kita tidak memiliki anggota legislatif Kabupaten yang berasal dari Luat Pahae. Kelompok politik yang diharapkan mampu membawa aspirasi kita tentu tidak otomatis terdapat di antara parpol yang ada. “Pertanyaannya ialah, siapa yang benar-benar mampu memperjuangkan kemajuan Luat Pahae?”, Tanya Burhanuddin retoris.


Luat Pahae terkenal dengan SDM dan SDA yang menonjol. Jika melihat fakta minimnya infrastruktur dan tingkat kerusakannya saat ini, orang tidak percaya bahwa Menteri Pekerjaa Umum pertama Republik Indonesia adalah putera asal Luat Pahae, yakni Ir Mananti Sitompul. Harapan saya, demikian Burhanuddin Napitupulu, kita perlu sebuah kelompok politik di legislatif Kabupaten, Provinsi dan Pusat yang dapat menjadi link (jaringan) yang kuat untuk memperjuangkan kemajuan Luat Pahae. Menurut dia, kondisi ini meminta keihlasan kita untuk tidak menonjolkan adanya perbedaan idiologi politik, apalagi agama.

Ketua Umum DPP Persatuan Luat Pahae Indonesia Dr.Hulman Sitompul dalam paparannya merinci kesepakatan kelompok kerja yang dipimpinnya untuk pemetaan politik, kajian popularitas dan elektibilitas di antara parpol dan caleg yang ada serta pencarian metoda yang terbaik untuk memberi pengaruh kepada masyarakat dalam penentuan pilihan dalam pemilu 2009 di kawasan Luat Pahae. Benar kata bang Burhanuddin, jelas Dr.Hulman, Pahae harus kita titipkan sebagai agenda penting yang harus diperjuangkan oleh para politisi kita. Oleh karena itulah kita memerlukan cara terbaik untuk mengarahkan pilihan politik kita agar nanti tidak berakhir sia-sia. Tidak itu saja, kata Dr.Hulman, putera asal Pahae dimana saja, yang saat ini berjuang untuk legislatif melalui pemilu 2009 sesungguhnya wajib kita Bantu. Di sini sudah hadir dan kita sudah kenal perjuangannya selama ini, yakni bang Burhanuddin Napitupulu. Dia salah seorang di antara tokoh penting yang kita miliki dan tentu wajib kita Bantu.


Sementara itu Shohibul Anshor Siregar yang dikukuhkan sebagai Sekretaris Umum DPP Persatuan Luat Pahae Indonesia pada pertemuan itu menyampaikan obsesinya, untuk mengembangkan paguyuban warga Luat Pahae sebagai bentuk solidaritas yang solid di antara para perantau untuk membangun kampong halaman. Agenda kita masih amat besar. Perhelatan politik 2009 memang patut menjadi salah satu urgensi yang perlu kita sikapi segera. Di luar itu agenda lain telah menunggu, misalnya bagaimana meyakinkan semua pembijaksana provinsi dan pusat bahwa rencana pengalihan jalan lintas Sumatera dari Pahae merugikan bagi daerah SUmatera Utara baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Perjuangan ini memerlukan kekuatan riil di legislatif maupun di eksekutif. Itu sebabnya begitu penting memperjuangkan orang-orang kita dalam pemilu 2009.

Selain itu kita perlu kajian tentang pola terbaik yang harus dibangun dalam kerangka interaksi perantau Luat Pahae dengan kampung halaman. Salah satu contoh budidaya coklat yang berkembang saat ini di Luat Pahae adalah inisiatif dari perantau. Petani kita adalah kelas gurem, tanahnya tidak bersertifikat, dan pola pemilikan lahan juga amat terbatas. Wadah Persatuan Luat Pahae Indonesia menginginkan terbangunnya sinergi antara perantau, kampung halaman dan pemerintahan lokal, papar Shohibul.


Persatuan Luat Pahae Indonesia adalah wadah yang dibentuk sebagai wahana perantau asal Luat Pahae di Medan. Dalam Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangganya dijelaskan bahwa wadah ini juga akan dikembangkan ke seluruh Indonesia, di tempat mana terdapat warga perantau asal Luat Pahae. (ms)