Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Labura


Hari ini, 15 November 2011, genap setahun kepemimpinan H Khairuddin Syah Sitorus akrab disapa H Buyung selaku Bupati Labuhanbatu Utara (Labura) priode 2010-2015.

Dalam kurun waktu satu tahun kepemimpinan mantan aktivis OKP, pengusaha dan politisi tersebut, banyak catatan yang pantas digoreskan. Sebagai sahabat yang pernah kenal dan dekat dengan beliau, catatan ini mungkin sangat subjektif.


Namun dengan jujur harus diakui, H Buyung telah meletakkan pondasi yang kokoh bagi pemerintahan di kabupaten Labura. Paling tidak, dalam setahun kepemimpinannya, H Buyung telah dengan sukses menggalang dan membangkitkan semangat segenap komponen masyarakat Labura, untuk sama-sama berperan aktif membangun daerah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Bagi daerah yang baru dimekarkan seperti Labura, langkah ini tentu menjadi modal yang baik untuk menghadapi tantangan kepedepan yang sudah pasti akan semakin berat. Gebrakannya menjalin komunikasi aktif dengan tokoh lintas agama dan memberdayakan kearifan lokal, menjadi pintu masuk bagi H Buyung untuk selalu bersama rakyat dalam membangun Labura.

Di awal pemerintahannya, terutam saat H Buyung menyusun kabinetnmya agar menjadi pemerintahan yang kuat dan kompak, sejumlah cercaan datang dari berbagai penjuru. Antara lain, H Buyung dituding tidak menghargai putra daerah. Karena sejumlah posisi penting di Pemkab Labura, diduduki pejabat import dari luar.

Paling pedas lagi, H Buyung dituding telah menjadikan Laburan sebagai “penampungan” pejabat yang terbuang di daerah lain. Cercaan dan makian datang silih berganti, baik melalui pemberitaan di media, bahkan juga lewat aksi demo di kantor Bupati Labura.

Namun H.Buyung bukanlah tipe pengecut, apalagi lari dari tanggungjawab. Dia tetap istiqomah menjalankan amanah sebagai pemimpin di daerahnya. Apalagi sejak awal, niatnya menjadi Bupati bukan sekedar gagah-gagahan. Dia tampil menjadi Bupati di Labura, semata untuk pengabdian. Tidak lebih!

Sebagai Bupati di daerah yang baru mekar, H Buyung menyadari betul masalah yang akan dihadapi sangatlah berat. Karena itu dia sudah siap mengorbankan segalanya, termasuk harta, waktu dan pemikiran demi niat tulusnya membangun Labura.

Karenanya, walau banyak yang mencerca dan meragukan kemampuannya, dia tetap tegar dan malah menjadi semakin semangat untuk membuktikan diri dia mampu membangun Labura. Karena itu, dia siap dikritik dan membuka diri dengan siapa saja untuk berdialog, sepanjang tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat Labura kini dan mendatang.

Langkah awal dilakukan H Buyung adalah, meminta masukan kepada tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh lintas agama. Bahkan dia berkenan masuk ke “Parsulukan” guna merekam aspirasi rakyat dan memetakan masalah.Dia juga tidak begitu saja menerima laporan stafnya, tapi turun langsung ke tengah-tengah masyarakatnya.

Ketika bincang- bincang dengan penulis di gedung DPRD Sumut pekan lalu didampingi Ketua Bappeda Dani Setiawan dan Ketua DPRD Labura Drs. Ali Tambunan, H Buyung mengatakan, walau sudah banyak yang dicapai dalam satu tahun pemeritahannya bersama Wabup Syahminan, namun capaian indikator progres pembangunan belum optimal.

Sebagai daerah yang baru mekar, sejumlah masalah masih perlu dituntaskan dengan kerja keras dan keikhlasan. Sarana dan prasarana belum memadai, sehingga pelayanan kepada masyarakat juga menjadi belum maksimal.

Sesungguhnya siapa pun pasti memahami, betapa berat beban dihadapi H Buyung dalam merubah Labura menjadi daerah yang sejahtera. Sebab angka kemiskinan di Labura masih tinggi. Dengan jumlah penduduk sekitar 75 ribu KK, pengangguran terbuka mencapai 9% dan penduduk miskin menurut BPS Sumut 2007 mencapai 21 %.

Selain itu, untuk memacu pembangunan di daerah itu, Pemkab harus ekstra keras mencari peluang-peluang pendapatan. Sebab, jika hanya mengandalan APBD yang tahun 2011 hanya Rp 573 milyar tentulah sangat sulit.

Sebagai catatan, Kabupaten Labura resmi terbentuk pada 15 Januari 2009 berdasarkan UU RI Nomor 23 Tahun 2008 tanggal 21 Juli 2008. H Buyung sebagai Bupati pertama dipilih langsung oleh rakyat, harus bertanggungjawab penuh terhadap nasip daerah yang luasnya 3.571 km2, berpenduduk 323.740 jiwa, dengan 8 kecamatan, 8 kelurahan dan 82 desa.

Dalam satu tahun kepemimpinannya menjadi Bupati Labura, H Buyung juga menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana pemerintahan yang belum lengkap. Karena hampir semua kantor pemerintahan yang ditempati saat ini, masih sangat terbatas. Pemkab Labura belum memiliki kantor Bupati yang representatif.

Pemkab Labura masih memperjuangkan status peruntukan lahan bagi kantor bupati, dan masih tersangkut permasalahan dengan pihak PTPN III .Lokasi pembangunan kantor bupati itu sendiri berada di wilayah eks HGU PTPN III Membang Muda.

Keterbatasan lahan akibat dikepung perkebunan milik PTPN dan swasta juga menjadi masalah pelik bagi Pemkab Labura mengembangkan ibukota Aek Kanopan. Kota ini sulit diperluas kalau tidak ada partisipasi pihak perkebunan.

Maklum, secara geografis Aekkanopan dikelilingi perkebunan seperti di sebelah barat Perkebunan Sinar Mas, sebelah Timur PT Sei Perlak dan PTPN III Mambang Muda, sebelah Selatan juga Mambang muda sedangkan di sebelah utara berbatas dengan Ledong Barat, Asahan.

Begitupun, dengan pendekatan dan upaya tak henti H Buyung yakin segala rintangan akan dapat diatasi. Apalagi pihak swasta sendiri di Labura, memiliki nasionalisme yang kuat dan keinginan sama memajukan Labura.

Itikad baik pihak swasta tersebut setidaknya telah dicontohkan managemen PT Sei Perlak, yang telah menghibahkan 6 hektar lahannya untuk Pemkab Labura di desa Sukarame, kecamatan Kualuhhulu.

Dengan partisipasi pihak swasta ini, tentu menjadi motivasi bagi Pemkab Labura untuk terus maju. Sebab di areal yang dihibahkan itu nantinya dapat dibangun fasilitas umum seperti Gedung Olah Raga (GOR) dan lainnya.

Karenanya, walau baru satu tahun memimpin Labura, sejumlah prestasi sudah tercapai. Pembangunan sudah dilaksanakan, seperti berbagai sarana dan prasarana jalan maupun jembatan. Pembangunan dan rehab berbagai sekolah yang ada di daerah tersebut.

Bahkan dalam satu tahun pemerintahan H Buyung di Labura, semangat membangun dikalangan masyarakat sendiri telah bergelora. Dibuktikan dengan pembangunan sarana bisnis pertokoaan dan lainnya di kota Aek Kanopan sebagai pusat pemerintahan kabupaten Labura. Begitu juga kegiatan pembangunan di hampir semua daerah di Labura.

"Saya sudah bertekad selama periode kepemimpinan ini akan terus mengutamakan masalah sarana transportasi, akses jalan keseluruh desa harus bisa dilalui mobil, untuk mendukung program ini Pemkab Labura akan menyediakan alat berat seperti beko, greder dan lainnya," katanya suatu ketika.

Demi pembangunan Labura, H Buyung tak segan merogoh kocek sendiri. Dia juga lebih banyak menggunakan mobil pribadi dalam operasional pemerintahan, dan tidak menggunakan pasilitas pemerintah saat tugas keluar daerah. Istilah dia, Bupati dan pimpinan SKPD, termasuk anggota DPRD Labura masih “puasa” untuk tidak menikmati pasilitas.

Dia menyadari, Labura masih miskin dalam berbagai hal. Maka kerja keras harus dilakukan, mengejar sejumlah ketertinggalan pembangunan. Sumberdaya alam yang melimpah tidak akan maksimal untuk kemakmuran rakyat, jika tidak digali dan dimanfaatkan dengan menyiapkan sumber daya manusia dan partisipasi aktif rakyat.

H Buyung memang sudah dikenal sebagai sosok pekerja keras yang ulet dan selalu ikhlas dalam menjalankan tugas dan mencintai masyarakat. Rasa cintanya kepada masyarakat, menjadi modal utama baginya untuk selalu ikhlas menjalankan amanah menjadi Bupati Labura.

Dengan gaya kepemimpinnya yang bersahabat, semua orang merasa terlibat dalam pemerintahan mulai dari tingkat kampung-kota dan terlibat dalam pembangunan. Baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi Pembangunan agar tercipta kemadirian dan kesejahteraan.

H Buyung terkenal dan dicintai rakyatnya, karena kepiawaiannya mendekati warga di wilayah-wilayah pedesaan. Dia adalah Bupati yang merakyat. Dia bisa saja hadir dari rumah ke rumah.

Ketika pembangunan di Labura bergeliat menuju perubahan walau masih satu tahun dibawah kepemimpinannya, orang lain tidak merasa heran. Sebab dia terjun langsung bekerja dengan masyarakat.

Dia tidak sungkan berbasah-basah dengan nelayan, dengan masyarakat korban banjir. Bertemu langsung dengan warganya adalah kunci kedekatannya dengan kebutuhan warga. Jika dia rela berbasah -basah dan menemui warga korban banjir ditengah malam dan menginap bersama warga, itu karena komitmen yang kuat pada masa depan daerahnya.

H Buyung berhasil memimpin Labura karena dia memahami filosofi pembangunan yang melayani. Dia memahami betul kondisi daerah yang berciri perkebunan sawit dan persawahan, lalu meramunya dengan pengembangan kapasitas sumberdaya manusianya.

H Buyung adalah Bupati dengan karakter seorang ayah yang selalu mengayomi rakyat.Karakter ini pula diharapkan banyak pihak tetap dipertahankan H Buyung hingga sisa empat tahun kepemimpinannya, agar impiannya membawa perubahan Labura menuju masyarakat sejahtera dapat terujud.***(Mayjen Simanungkalit)