AGENDA PEANORNOR



Oleh Shohibul Anshor Siregar

SAYA memulai seakan "mengabsen" nama-nama alumni yang saya kenal baik, namun tidak hadir dalam pertemuan alumni ini. Semua teman yang tahu sebuah rahasia kecil tergelak ketika saya mulai dengan nama seorang teman yang tidak tahu berbahasa Batak, Mulianis. Ia gadis Minang yang ramah dan pandai pula bergaul.


Dari atas podium di ketinggian 1,5 meter itu saya saksikan Prof.Dr. Ibrahim Gultom terbahak paling kuat ketika saya sebut nama ini, dan itu sudah saya perhitungkan sebelumnya. Selain nama seorang adik kelas kami Mulianis, saya juga menyebut nama-nama yang hanya sebagian orang saja yang faham betul mengapa saya sebutkan itu. Mereka adalah kakak kelas kami Mawahiddin Tambunan dari Soporaru (Tapanuli Utara), dan teman sekelas kami Nurhayati Tambunan dari Sigotom (Tapanuli Utara).

Saya menyaksikan reaksi yang juga sudah saya perhitungkan sebelumnya dari sebagian audiens, terlebih Bismar Rambe, teman sekelas yang hingga usia di atas 50-an ini masih tetap memiliki kegigihan yang amat menonjol. Mengapa saya sebutkan nama-nama itu, memanglah tidak untuk dibincangkan secara terbuka. Biarkanlah keengganan saya menceritakan maksud penyebutan nama-nama itu apa adanya.

Posting ini saya maksudkan sebagai pemaparan ringkas tentang apa yang saya pikirkan amat serius tentang pendidikan Peanornor, dan yang sebagiannya sempat saya sampaikan saat didaulat memberi pokok pikiran dalam satu sesi acara (sarasehan) dalam pertemuan alumni Pendidikan Penornor yang berlangsung tanggal 2 dan 3 Juli 2011 itu. Beberapa catatan lain tentu akan saya fokuskan kepada hasil-hasil pertemuan. Nanti akan saya awali dengan menceritakan tempat apa itu Penornor.

Saya juga menyebut nama-nama yang benar-benar saya maksudkan hanya untuk saling mengingatkan keberadaan teman-teman. Tak pernah bertemu sejak tahun 1974, maka patutlah saya sebut Tumpak Tambunan yang kini menjadi guru di Tapanuli Tengah. Leonardo Siregar, Kores Siregar dan nama-nama lainnya yang saya sendiri tidak tahu di mana mereka sekarang.

Abdul Rahman Gultom sudah meninggal beberapa tahun lalu di Medan. Ia adalah seorang anak muda klimis, rapih dan necis di antara siswa yang ada. Menyebut nama ini untuk sebagian besar teman dan para guru dengan sendirinya akan mengingatkan nama lain, Dolok Panjaitan. Ia adalah sepupu bagi alm Abdul Rahman Gultom. Keduanya nyaris tak pernah akur, dan tak jarang pertengkaran mereka harus diakhiri dengan perkelahian yang menghebohkan. Tetapi keduanya akan selalu kompak menghadapi "lawan".

Lembah Kecil di Sela Pebukitan
Peanornor adalah nama sebuah desa kecil di Tapanuli Utara, sekitar 18 km dari kota Tarutung. Desa kecil ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Pahae Julu. Tadinya hanya ada 8 (delapan) keluarga di desa lembah yang dihiasi hutan-hutan kecil berbukit di perlintasan jalinsum ini.

Di desa inilah sekitar tahun 60-an didirikan sebuah lembaga pendidikan tingkat dasar yang diasuh oleh sebuah badan usaha bernama Yayasan Pendidikan Islam Pahae Julu (YAPIPJU). Sebagai daerah yang berpenduduk muslim minoritas, murid-murid sekolah ini berasal dari berbagai desa terpencil dan memiliki jarak yang cukup jauh dari Peanornor.

Di antara mereka yang kemudian menjadi saya kenal baik dan menjadi teman sepermainan saat menjadi siswa pada PGA Negeri Peanornor, termasuk Abdul Baduali Sinaga dan Kiyamuddin Siagian (Aek Sitapean), Saur Gultom (saya tak ingat nama kampung dia) Huntal Sitompul (Lumban Garaga), Musannif Sitanggang, Amarullah Hutabarat, Amiruddin Hutabarat (berasal dari desa Pantis). Juga Zainun Munthe dari Pearaja (menurut beberapa teman beliau pun sudah meninggal). Bakajar Simamora dan saudara-saudaranya seperti Marhanda Simamora serta penduduk Peanornor lainnya seperti Choiriyah Sitompul, Lahmuddin Hutagalung, Hizbul Wathan Panggabean dan saudara-saudaranya, Agussalim Panggabean dan saudara-saudaranya, adalah murid-murid yang paling dekat jaraknya dengan lokasi sekolah.

Didorong oleh keresahan atas perkembangan dakwah Islam yang begitu lambat, beberapa inisiator yang selama ini menekuni pendidikan tingkat dasar ini kemudian merencanakan pendirian pendidikan agama lanjutan. Keluarga Ahmad Muda Panggabean (lebih dikenal dengan Parjanggut) berperan sangat penting terutama karena mereka adalah kaum terpelajar yang memiliki sedikit banyaknya jaringan ke luar. Pengorbanan mereka luar biasa, termasuk merelakan tanah warisan orang tua mereka untuk dijadikan sebagai pertapakan sekolah.

Keluarga inilah yang kemudian melakukan roadshow ke seluruh Tapanuli Utara dan bahkan ke Medan, Dairi, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Mereka menemui para tokoh dan minta bertemu dengan masyarakat Islam di tempat-tempat yang mereka kunjungi untuk meminta kesediaan mengirimkan siswa ke sekolah yang akan dibuka. Mereka sudah bertekad bulat, bahwa sekolah yang didirikan adalah sekolah pendidikan guru agama yang dulu dikenal dengan nama Pendidikan Guru Agama (PGA).

Usaha mereka membuahkan hasil yang menggembirakan. Secara berangsur kesulitan membangun gedung diatasi dengan cara yang amat khas, yakni melibatkan para siswa yang lebih senior untuk bergotong royong secara berkala mengambil kayu di hutan-hutan sekitar untuk dijadikan bahan bangunan. Tepaslah dinding sekolah yang dapat diwujudkan. Lantai bangunan cukup tanah saja, tak lebih.

Mayoritas siswa berasal dari luar Peanonornor dan itu membutuhkan pemondokan. Dinding bangunan asrama terbuat dari papan tanpa penghalusan. Ruang-ruang asrama diisi paling banyak 6 siswa. Lantainya juga tanah. Hanya ada papan yang disusun sedemikian rupa untuk menjadi tempat tidur dengan kolong setinggi satu meter yang sekaligus dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang. Asrama untuk putera tidak berbeda dengan asrama untuk puteri yang bangunannya memanjang seperti barak yang di antarai oleh ruangan khusus untuk Kepala Sekolah yang kondisinya juga tak berbeda (berlantai tanah, beratap seng) tanpa plafon, meski berukuran lebih besar. Abdul Madjid Panggabean, Kepala sekolah pertama dan yang paling berpengaruh di sekolah ini, tinggal di sini.

Keluarga Panggabean tampaknya tidak pernah memaksudkan sekolah ini untuk menjadi milik keluarga. Setelah memiliki kecukupan syarat minimum, maka perjuangan selanjutnya adalah mengusulkan agar sekolah ini menjadi milik pemerintah. Hal itu terselesaikan dalam waktu relatif singkat. Dengan status itu siswa pun semakin banyak. Sebelum dilikwidasi, PGA memiliki dua jenjang. Jenjang pertama 4 tahun dan sebelum memasuki jenjang berikutnya (PGA 6 Tahun) diwajibkan mesti lulus. Untuk memasuki PGA 6 Tahun dilakukan test yang bahannya distandarkan menurut rayon yang ada.

Keluarga Panggabean juga banyak memberi masukan kepada Kementerian Agama RI agar sesegera mungkin (setelah tamat) siswa-siswa yang diluluskan dapat bekerja sebagai guru di sekolah-sekolah pemerintah dan sedapat mungkin tidak ditempatkan di luar wilayah Tapanuli Utara. Tetapi tidak semua alumni sekolah ini bekerja sebagai guru. Ada juga yang menjadi anggota TNI seperti Perwira pertama Rahmat Manullang, Abdul Baduali Sinaga dan Kiyamuddin Siagian. Bahkan Letkol Arifin Sitanggang yang kini bertugas di Mabes AD. Ada juga yang menjadi Ketua Pengadilan Agama seperti Jamalaba Malau yang kini bertugas di Nias.

Mengapa Degradasi?

Pada tahun-tahun 70-an sampai 80-an,praktis hanya ada 3 pilihan sekolah pendidikan agama di wilayah Tabagsel, yakni Peanornor di Utara, Purba Baru di Selatan dan KH A Dahlan di Sipirok (Tengah). Degradasi (dalam arti nyaris kekurangan siswa) ketiga sekolah ini terjadi seolah tanpa disadari. Apakah gerangan penyebabnya? Menurut saya ada dua faktor umum, yakni internal dan eksternal. Faktor internal sebaiknya dibicarakan secara internal saja dan kini ingin saya tawarkan jalan pikiran saya menganalisis permasalahan ini berdasarkan pengenalan terhadap faktor-faktor eksternal.

Hampir tak disadari oleh banyak kalangan bahwa faktor demografis begitu besar andilnya. Keberhasilan Keluarga Berencana tentu sudah menghasilkan tingkat pertumbuhan penduduk yang semakin kecil. Sebagai contoh di Sipirok berepa tahun terakhir telah dilakukan merger (penggabungan) beberapa sekolah dasar karena kekurangan murid. Dengan cara itu sekolah yang tersisa tidak juga mendapatkan murid untuk sebuah kelas besar.

Mungkin tidakpernah dibayangkan secara serius bahwa perubahan politik dan pemerintahan juga begitu besar dampaknya. Otonomi dan pemekaran wilayah telah mewajibkan daerah-daerah otonomi baru untuk memenuhi sendiri kebutuhannya termasuk dalam halpendidikan. Jika dulu di Tapanuli Utara hanya ada satu PGA yang akhirnya dilikwidasi menjadi Madrasyah Aliyah Negeri (MAN), maka kini sekolah sejenis sudah ada di hampir setiap daerah pemekaran yang kini sudah menjadi empat. Masih ada lagi sekolah swasta.

Di Aek Botik sudah ada Tsanawiyah Negeri, Di Tarutung sudah ada ALiyah Swasta, di Bulu Payung sudah ada Pesanteren. Daerah Eks Tapanuli Selatan pun masing-masing sudah memiliki lembaga pendidikan agama tingkat dasar, menengah pertama dan menengah atas. Alasan apa pula seorang tua menyekolahkan anaknya jauh-jauh (misalnya dari Aek Botik) jika di depan rumahnya sudah ada sekolah sejenis? Hal serupa akan menjadi alasan bagi orang yang bermukim di Porsea, Humbahas, Samosir dan daerah-daerah lain yang tadinya menjadi pemasok siswa untuk Peanornor.

Hallain yang patut diperhatikan tentulah perubahan nilai dalam memandang dan memperlakukan sekolah atau pendidikan. Pendidikan itu kini sudah menjadi komoditi banyak wajah.Ia bisa sebagai industri yang memperkaya, dan juga bisa menjadi komoditi politik. Untuk bisa survive tentulah harus ada keunggulan kompetitif di samping keunggulan komparatif. Jika sebuah sekolah dikelola dengan apa adanya dan tanpa keunggulan yang merupakan scarcity (kelangkaan), maka sesungguhnya sekolah itu sudah kalah bersaing. Tidak ada norma dalam rivalitas ini, dan tampaknya hanya modal (capital) yang menjadi andalan.

Pada saat pembukaan pertemuan ini ada 2 orang alumni yang diberi kesempatan memberi sambutan mewakili keseluruhan. Mereka adalah Letkol Arifin Sitanggang dan Rohimah Panggabean. Rohimah panggabean selama ini bekerja sebagai guru. Beberapa waktu ke depan ia akan memasuki usia pensiun. Mengisi hari-harinya setelah pensiun ia akan mengasuh sebuah lembaga pendididikan di kampung halamannya (Janji Angkola) yang tak begitu jauh dari Peanornor. Tidak ada hukum yang melarangnya "membunuh" pendidikan di Penornor dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang akan menjadi pesaing itu.

Hasil Pertemuan

Pertemuan ini boleh disebut sebagai pertemuan pertama. Selain menghasilkan keputusan penghunjukan sejumlah orang untuk organisasi alumni yang dibentuk, pertemuan ini juga menghasilkan sejumlah pokok pikiran dan rekomendasi tertulis. Dalam rekomendasi yang mereka lahirkan jelas sekali mereka berfikir tentang upaya penyelamatan dari degradasi. Beberapa di antaranya simaklah berikut ini:

(1) Mengharapkan perhatian khusus dari pemerintah, baik pusat maupun lokal, khususnya Kementerian Agama, agar mendorong pengembangan ruh, visi dan misi keislaman dalam pendidikan di Peanornor.

(2) Alumni berpendapat sebaiknya pola pengelolaan dilakukan lebih intensif dengan mengadopsi model pendidikan pondokpesanteren dengan aksentuasi pada kompetensi tertentu sesuai dengan dukungan aspek-aspeklingkungan. (3) Pendidikan Peanornor telahmencatat sejarah dalam kaitan dakwah dan akan tetap memerlukan upaya yang setiap saat diperbarui sebagai sebuah keniscayaan belaka.

(3) Sumberdana dianggap sebagai salah satu faktor paling musykil dalam rencana revitalisasi. Alumni mengusulkan mendirikan badan usaha milik sekolah yang bergerak dalam bidang agrobisnis untuk menanggulangi konsekuensi-konsekuensi langkah revitalisasi.

(4) Dulu ada hibah lahan seluas 3,6 ha dari Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang hingga kini belum dimanfaatkan. Lahan itu akan dijadikan sebagai modalusaha bagi badan usaha milik sekolah yang berbentuk koperasi.

Organisasi Alumni berhasil dibentuk dengan nama Ikatan ALumni MAN Peanornor. Mengapa MAN? Para ahli pendidikan yang ikut merumuskan organisasi ini berpandangan bahwa sesuai ketentuan yang berlaku sebuah organisasi alumni harus sesuai dengan sekolah yang ada. Dengan menyebut Alumni PGA Peanornor sudah barang tentu secara legal-formal tidak ada sangkut-paut dengan sekolah yang ada sekarang (MAN dan Tsanawiyah). Itu alasan mengapa bukan alumni PGA yang dibuat sebagai dasar perumusan nama organisasi alumni.

Lalu mengapa tidak dicakup Tsanawiyah? Itu juga didasarkan pada fakta bahwa saat ini masih terasa begitu sulit untuk membagi permasalah-permasalahan yang dihadapi kepada segenapalumni. Dominasi alumni PGA begitu besar dalam pertemuan ini baik secara jumlah maupun secara pengaruh. Bahkan jika dipaksakan untuk membentukorganisasi alumni Tsanawiyah, dikhawatirkan hanya akan mencatatkan nama sejumlah orang yang tidak diketahui kesediaan dan loyalitasnya. Karena itulah organisasi alumni yang dibentuk dipandang bertanggungjawab untuk meletakkan dasar-dasar keorganisasian yang kuat serta memfasilitasi terbentuknya organisasi alumni Tsanawiyah dan pendidikan dasar YPIPJU.

Penutup

Saya orang pertama yang hadir di sekolah ini pada saat diadakannya pertemuan. Saya disambut oleh panitia yang belum pernah saya kenal.Tetapi dari raut wajahnya saya bisa memastikan siapa mereka. Mereka adalah alumni-alumni yang jauh lebih muda dari saya dan adik atau anak-anak dari orang-orang yang dulu saya kenal di sini.

Uban saya cepat tumbuh, begitu kesan yang saya dapatkan dari banyak orang yang tidak mengenal saya setelah sekian lama tidak berftemu. Sebaliknya dengan lancar saya sebut nama-nama orang yang saya temui dan pada umumnya mereka bereaksi "ise do hamu" (siapa gerangan) saat saya panggil nama mereka dengan keras pada waktu bersua itu.

Empat putera saya sudah saya bawa ke sini sambil berusaha pada kesempatan berkunjung itu menceritakan kepada mereka bahwa di sini sebuah tahapan hidup keluarga kita pernah dimulai dengan patrian kuat dan mendalam. Saya menyaksikan mereka berusaha memahami antara lain dengan ajuan-ajuan pertanyaan yang detil. Tetapi ketika mereka bertanya "di mana ruang kelas ayah dan di mana kamar tidur ayah", maka saya pun bersedih. Semua bangunan yang ada di sekolah ini sudah bangunan baru. Situs Shohibul Anshor Siregar sudah tak ditemukan lagi di sini.

Selain Kepala Sekolah pertama Abdul Madjid Panggabean hadir juga beberapa guru dan mantan guru yang saya tidak kenal lagi. Tetapi, hingga kini saya belum mampu menuliskan sebait saja pun dari semua kalimat yang disampaikan dalam pidato orang yang amat berjasa ini saat pembukaan pertemuan. Tetapi saya tahu beliau menangis saat menceritakan semua sepak terjang yang dibingkai kesulitan besar waktu dulu. Saya merasakan air mata saya berulangkali menetes saat pidato berdurasi sekitar 35 menit itu. Ia seakan mengiba menawarkan agar para alumni bersedia mendirikan sebuah Yayasan pendidikan.

Saya meraba perasaannya yang paling dalam dan saya merasa yakin ia sedang berfikir menawarkan "maukah kalian, wahai anak-anakku tidak membiarkan lembaga pendidikan ini gulung tikar? Dirikanlah sebuah yayasan yang kuat untuk mengantisipasi itu".

Semua orang yang hadir di sini sangat berterimakasih kepadamu, guru, pembimbing dan teman terbaik. Semoga Allah Swt memuliakanmu dan semua orang yang berjasa untuk perjuangan panjang ini.***